Puncak Gunung Kerinci Tertinggi di Asia Tenggara

Selamat Pagi… Kayanya naik gunung itu selalu bikin gagal move on.. Sampe skrg masih share foto yg sama tentang Kerinci

Anyway.. Gunung apa yg bikin kalian gagal move on?
Kalo gue.. Uhm Gunung Agung di Bali sih bikin gue gagal move on

Kemana pun elu pergi, sejauh apapun jarak yg elu tempuh, jangan lupa dengan negara sendiri, tempat dimana elu lahir dan berpijak

Gue bangga lahir di tanah yg begitu kaya dengan alam-nya
Negara yg mempunyai banyak budaya dan keanekaragaman adat istiadat
Negara yg mengajarkan untuk menghargai setiap perbedaan
Negara yg masih harus banyak belajar untuk menjadi lebih baik lagi
Dan yg paling bikin seneng adalah, banyak makanannya yg super duper enak  *tetep urusan perut nomor satu!

I will always love you Indonesia! No matter what.. HAPPY INDEPENDENCE DAY MY LOVELY COUNTRY!! Jadi lebih baik lagi no more Drama please

Ps. Yg gak bersyukur dan hobby jelek-jelekin Indonesia, mending pindah ke Planet Namex!

Saat turun dari Puncak Kerinci, pemandangannya cakep abis.. Dari atas sana juga bisa keliatan Danau Gunung Tujuh sebagai Danau Vulkanik Tertinggi di Asia Tenggara.

Sepanjang jalur turun akan disuguhi pemandangan yg ciamik jika tidak turun kabut. Konon katanya, Gunung Kerinci ini biasa tertutup kabut saat para pendaki turun dari Puncak Indrapura.

Disinilah pendaki lebih dituntut untuk extra hati-hati, jalur terjal, bebatuan dan kerikil halus membuat semakin licin, gak heran kalo para pendaki sering terpeleset.

Dan kabar duka pun datang, Sedih mendengar salah satu pengunjung Gunung Kerinci ada yg cidera cukup dan harus di Evakuasi. Kejadiannya saat turun dari puncak, saat berlari dia hanya memakai sandal dan jatuh mengakibatkan cidera yg cukup serius. Semoga segera pulih yah.

Dear teman-teman, utk menghindari cidera atau kejadian yg tidak diinginkan mohon utk memakai gear yg sesuai dalam mendaki, dan gak perlu lari-larian juga sih karena ini bukan lagi ngejar jodoh atau ngejar gajian.. So be wise! 

Menjaga Suhu Tubuh Tetap Hangat di Gunung

Dingin? yah namanya juga gunung pasti udaranya dingin apalagi saat malam. Tapi dinginan mana sama sikap dia?
Yaudah, jangan dilawan broh! dinikmatin ajah dengan pintar dan coba beberapa #TipsAlaAnakBebek untuk mengatasi kedinginan atau menjaga agar suhu tubuh bisa tetap hangat, inget jangan disepelekan karna bisa menyebabkan hipotermia. ini tipsnya, Cekiibbrroottt :

1. Pakailah pakaian yg sesuai, ini penting banget. inget di postingan gue sebelumnya tentang layering? nah coba dipraktekin. perhatikan bahan baju yg digunakan juga. Sarung tangan, kaos kaki, kupluk, shawl, warm jacket, ini ngebantu bgt menghangatkan

2. Makan! Jgn cuma kemakan janji2nya. tubuh bisa mengeluarkan panas jika ada pembakaran di dalam tubuh, melalui apa yg dimakan. nah ini panas tubuh dari dalam, mau gak nafsu makan pun, dipaksakan. mau kedinginan lalu kena Hipo?

3. Minum air hangat. Jahe panas juga bisa membantu untuk mengeluarkan panas tubuh. sediakan termos agar air ttp hangat

4. Bolehlah gosok-gosoking tangan/jari2 agar tetap hangat. minta di gosokin tangannya jg boleh ke si doi hahaha.. selipin tangan di ketek jg boleh asal jgn asem keteknya.

5. Jika masih merasa dingin juga, usahakan bergerak. Jangan diem ajah, kecuali saat tidur.

6. Saat di jalan, hindari istirahat terlalu lama. Kalaupun istirahat usahakan tetap memakai jacket, agar tubuh yg berkeringat tidak menyerap dingin.

7. Bisa mendekatkan diri ke area dapur/kompor. inget ga semua tempat aman utk membuat api unggun, apalagi di Taman Nasional tidak boleh, harus ada izin tertentu. Dan lihat lagi medannya, kalo banyak rumput kering, lagi kemarau, lebih baik jgn bikin perapian, karna rawan kebakaran

8. Tidur berdekatan, tapi jangan mencari kesempatan dalam kesempitan di sleeping bag!

ini trick yg dering gue gunakan kalo misal udah kedinginan, sediakan air panas, masukan ke dalam botol yg tahan panas. lalu saat tidur masukan botol tersebut ke dalam sleeping bag. Ini fungsinya sebagai insulasi agar panas dari air bisa diserap tubuh dgn cepat. Bisa juga beli hand warmer seperti pasir yg jika di gosok bisa menghasilkan panas. ini waktu itu gue beli di Jepang

Okay sekian tips dari gue semoga membawa manfaat yes!!

Se’i “Daging Asap” khas Timor

Ada banyak sekali makanan khas yang berasal dari setiap bagian di Indonesia. Nah, salah satu yang terkenal ke seluruh penjuru negeri adalah makanan khas kupang yang berada di NTT yaitu Se’i.

Makanan ini sangat terkenal sekali berkat cita rasa yang sangat unik, khas, dan lezat. Nah, untuk memasak seí pun memerlukan berbagai macam peralatan khusus. Kuliner ini sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat kupang sehingga masih diteruskan sampai saat ini.

Kini menemukan makanan khas kupang ini sangatlah mudah sekali. Sudah banyak tempat makan yang menyediakan makanan khas timor ini sebagai salah satu upaya memperkenalkan makanan daerah timor.

Yap! Kali ini kita membicarakan tentang kuliner! Pasti lapar kan? Pas banget jam makan siang nih! Aneka kuliner saya coba, dari yang biasa sampai yang ekstrim! Penasaran? Satu2 yah.. Pertama kali saya menyentuh pulau Timor, dirumah Host saya diberi makan Se’i. Apa sih Se’i?

Se’i adalah sejenis olahan daging (biasanya sapi/ babi), yang di iris tipis lalu diolah dengan cara dimasak dengan asap dari pembakaran daun Kosambi, bentuknya kayak dendeng tapi rasanya berbeda. Daun kosambi sendiri saya tidak tahu seperti apa, itu sih menurut sumber Chef Host saya. Jadi di Timor sendiri biasanya Se’i dijadikan oleh2 untuk dibawa ke kampung halamannya. Orang Pulau Rote juga bilang sebenarnya Se’i itu adalah bahasa pulau Rote, yang artinya daging yang diiris panjang, tipis2.

Rasanya? Kalian harus cobain sendiri. Aroma dari daun yang mengasapi si Daging itu sendiri, cukup nendang, Guys! Dimakan bersama nasi hangat saja cukup, apalagi ditemani sambal pedas, wuih mantap mak! Beta suka !! .

Saran : Kalau sedang di Kupang, hati2 bagi yang muslim. Sebelum beli Se’i, tanya dulu Se’i Sapi atau Babi. Karena kebanyakan sih yang dijual yang Babi, jadi ask first. Jangan lupa untuk oleh2, beli nya ditempat oleh2, karena packingannya lebih bagus. Tapi kalau mau makan langsung, bisa beli di pasar terus diolah sendiri, atau beli saja yang sudah jadi.

Wisata ke Dataran Tinggi Dieng

Masih kembali di rubrik liveposting, sekarang Yud masih mampir di beberapa spot menarik di Dieng. Sebenernya banyak banget spot menarik di Dieng. Dari mulai Telaga Warna, Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang, Bukit Pandang, Komplek Candi Arjuna, Telaga Dringo, Bukit Sikunir, dan banyak lainnya. Tetapi hari ini Yud hanya menyempatkan mampir di 3 tempat karena keterbatasan waktu, yaitu:

Telaga Warna. Telaga yang memiliki aneka warna air ini sangat menarik dan wajib didatangi untuk para turis yang mampir ke Dieng. Suasananya yang sejuk membuat betah bersantai di komplek ini. Dalam komplek ini, selain telaga warna, ada beberapa makam dan gua yang bisa dikunjungi. Jangan lupa untuk mampir ke Bukit Pandang yang membutuhkan 20 menit untuk dicapai. HTM 7500 per kepala.

Kawah Sikidang. Kawah yang merupakan daerah panas bumi ini seperti di planet Mars. Tanah berdebu, asap dimana-mana, dengan kawah penuh air mendidih. Bau belerang disini sangat kuat, dan disarankan menggunakan masker selama berada di Kawah Sikidang. Di komplek ini juga terdapat permainan ATV dan motor trail yang bisa kamu sewa. HTM 10ribu per orang.

Komplek Candi Arjuna. Komplek ini sendiri merupakan gabungan dari beberapa candi yang ada. Saya sendiri lupa nama per candinya, tapi disini merupakan spot paling menarik untuk melihat sunset. Jangan lupa disini juga merupakan spot yang digunakan saat perayaan cukuran rambut gimbal nya Dieng. HTM include HTM Kawah Sikidang.

Pokoknya untuk temen-temen yang mampir ke Dieng wajib mampir kesini ya gaes!

Nah tadi sempet liatin sunset yang lumayan di Candi Arjuna. Senja itu memang selalu menarik dan cantik yah, teringat sih dulu saat melakukan perjalanan, paling suka banget kalau lihat senja dari atas kapal Pelni. Bener-bener garis laut terus mataharinya pelan-pelan masuk kedalam, dan cahayanya bias ke awan-awan. Di Banda Neira juga senjanya kece. Tapi ada yang bilang, senja terbaik di Indonesia itu katanya di Kaimana, Papua. Pengennya sih, kesana langsung hehehe.

Kalau kamu punya pengalaman senja terbaik dimana? Bersama siapa? Bersama keluargakah atau bersama pasangan? Di share ya gaes!

Katanya Orang yang Punya Hobi Traveling Suka Selingkuh?

Katanya orang – orang yang suka traveling itu memiliki jiwa yang liar dan penjelajah. Hal ini dikait-kaitkan dengan traveler itu banyak pasangannya dan selalu ada saja di setiap daerah. Benarkah? Mari kita simak cerita ashari yudha yang suka jalan – jalan.

“Siapaaaaaaa yang nggak bisa floating?”.

Itulah yang pertama kali ditanyakan setelah kami tiba di danau ubur-ubur Kakaban. Capek diving, kami memutuskan untuk bermain dengan ubur-ubur yang lucu itu.

Ternyata, dari lima orang yang mencoba floating, ada satu orang yang nggak bisa floating Sebenarnya rahasia floating itu gampang aja, yaitu mengatur nafas.

Disaat kalian mengambil nafas sebanyak-banyaknya, otomatis kalian akan mengambang. Nah saat selesai menarik nafas, rentangkan kaki dan tangan sejauh-jauhnya lalu tetap tenang. Kalau panik, sudah dapat dipastikan tenggelam.

Disini ada yang gak bisa floating? Ngaku!
Yang badannya segede bagong aja bisa… Tebak, diantara tiga cewek ini mana yang kira-kira gak bisa floating?

Banyak orang yang bilang, orang yang punya hobi traveling itu rentan dengan perselingkuhan alias punya pasangan banyak. Lho kok begitu?

Secara logika, ya bisa saja terjadi. Orang yang hobi traveling otomatis bertemu dengan orang baru sepanjang perjalanan. Nah, ketika dua orang itu bertemu, mereka melakukan petualangan bersama yang mungkin bisa memacu rasa adiktif antar sesamanya. Belum lagi, kondisi di lapangan terkadang membantu proses itu, misalnya menunggu senja di pantai, atau tak gendong pas naik Gunung. Nah lho! Bisa-bisa punya pasangan di 34 provinsi. Duh!

Tapi, ada kontranya juga lho. Disaat kamu punya pasangan seorang traveller, yang selalu pulang kepadamu, bersyukurlah. Dalam perjalanannya, pasti ia selalu bertemu orang baru yang mungkin lebih menarik dari kamu. Tetapi ia tetap pulang kepadamu. Kurang apalagi coba.

Nah, ada juga opini lain. Yang traveling malah kebanyakan jomblo. Ya gara-gara susah dapat pasangan, ada aja yang melarikan diri dari kehidupan. Ya siapa tau iseng-iseng berhadiah, ketemu orang yang cocok saat melangkah.

Kalau kamu yang mana? Tag coba temenmu yang ngaku-ngaku travel player

Indahnya Bukit Telang di Kalimantan Selatan

“Zer, masih jauh nggak?”.

Aku dan Hendra terengah-engah mengikuti gaya jalan Zerie. Wajar saja, Zerie sering sekali mengeksplor bukit-bukit di sekitaran Kalsel. Sedangkan kami lebih banyak mengeksplor kuliner. Bahkan, Zerie yang paling banyak menemukan jalan menuju bukit-bukit baru. Ia lebih banyak berjalan sendiri, karena tak ribet. Tapi kali ini, ia membawa dua orang gentong yaitu kami.

“Bentar lagi Yud, dikit lagi.”.

Kata-kata Zerie seolah mengiang-ngiang ditelinga. Kalimay penyemangat belaka. Setiap kita melangkah selama lima hingga sepuluh menit, belum sampai-sampai juga.

“Hoax” pikirku dalam hati.

Kami berjalan melintasi hijaunya padang rerumputan yang bergoyang mengikuti angin. Bunyi rerumputan yang saling bergesekan dihempas angin selalu menenangkan. Aku selalu berpaku pada prinsipku, yaitu untuk menikmati perjalanan, tak perlu ngoyo. Berjalan santai tak terburu-buru menjadi opsi yang kami pilih. Sesaat kami meneduh sebentar dibawah sebuah pohon kecil, mengobrol hal-hal tidak penting sambil beristirahat.

“Zer, Ndra. Aku naik duluan gapapa? Takutnya kesorean” tanyaku.

“Iya gapapa Yud, aku sama Zerie disini dulu yak. Masih enak duduk” jawab Hendra.

“Tinggal lurus aja Yud ikutin jalur. Jalannya jelas kok” tambah Zerie.

Banyak orang yang bilang, terlalu banyak istirahat saat mendaki malah membuat badan semakin capek. Dan aku percaya itu. Menurut orang yang sudah sering naik gunung, katanya beristirahat apa lagi hingga duduk akan merusak ritme jalan dan ritme bernafas. Seharusnya jika sudah mendapatkan ritmenya, tetaplah berjalan pelan diselingi istirahat sebentar.

Langkah demi langkah, peluh demi peluh. Tak lagi kudengar suara tawa teman perjalananku. Mungkin, sudah terlalu jauh. Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar. Sepertinya, berbaring diantara ilalang merupakan pilihan yang tepat.

Semakin jauh, semakin terasa. Perasaan kecil diantara semesta semakin nyata. Dulu ketika aku menjelajah ke arah timur, rasanya sudah pergi jauh sekali. Tetapi semakin jauh, ternyata terasa semakin kecil. Mengapa?

Saat itu, rasanya berbangga hati sekali bisa menginjak daerah-daerah yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Berawal dari tekad dan keberanian, serta pesan almarhum yang menjadi pemantik semangat, aku mulai melangkah. Tak lama, aku berani membanggakan diri dengan titel “solo backpacker” yang aku gadang-gadang saat itu. Rasa bangga mulai bertransformasi sedikit demi sedikit menjadi rasa angkuh yang sulit dikendalikan.

Lalu, aku sadar.
Semakin jauh, aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Hanya debu kecil di luasnya alam semesta. Setiap hari, aku bertemu dengan banyak orang yang jauh lebih berpengalaman. Berpengalaman bukan hanya soal keberanian atau banyaknya destinasi, tapi bagaimana cara memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang. Memahami apa yang diinginkan dan yang telah dicapai. Menghargai tiap tetesan peluh saat berjuang. Bagaimana dia berani berkorban untuk hal-hal yang jauh lebih penting. Berpikir panjang dan bisa memilih prioritas.

Rasanya seperti ditampar keras-keras oleh tangan sendiri. Mungkin, semua ini adalah sebuah fase. Perjalanan adalah sebuah fase. Bermulai dari kita mencari jati diri dan tujuan, lalu menemukan jalan menuju puncak. Berbangga hati saat dipuncak, lalu turun. Saat turun, hampa terasa. Ternyata, bukan hanya puncak yang kita cari, tetapi lebih dari itu. Dan pasti, setiap orang akan melewati fase-fase itu.

Perjalanan bukanlah urusan titel. Titel hanyalah predikat, yang akan usang nantinya. Keesokan hari, selalu akan ada yang lebih baik. Paling tidak, aku melakukan apa yang terbaik hari ini, esok dan seterusnya.

Tiba-tiba suara Hendra mengagetkanku.

“Yud, ngapain bengong?” tegur Hendra.

“Hahaha, nggak Hen. Capek. Gak rugi lah keatas.” jawabku sambil tersenyum.

“By the way Hend, thanks udah dibawa kesini.”.

“Santai Yud, abis ini kita makan-makan dibawah” jawab Hendra sambil tertawa.

Angin bertiup semakin kencang, membuatku mengencangkan jaket. Perona jingga mulai mewarnai langit yang dipenuhi gumpalan awan. Lagi-lagi, suara gemerisik ilalang membangun suasana yang menenangkan.

“Terima kasih, Kalimantan. Aku akan kembali”.